Selasa, 10 Oktober 2017

Manajemen Humas



A.    Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa inggris to manage yang berarti mengatur, mengurus, atau mengelola. Menurut Malayu S.P. Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu.[1]
Menurut Terry dan Franklin, “Manajemen adalah satu proses yang terdiri dari aktivitas perencanaan, pengturan, penggerakan, dan pengendalian, yang dilakukan untuk menentukan, dan memenuhi sasaran hasil yang diwujudkan dengan penggunaan manusia dan sumber daya lainnya”. Manajemen terkait dengan kejelasan tujuan atau sasaran dan kesiapan sumberdaya serta bagaimana proses-proses mewujudkan tujuan ini. Keempat aktivitas ini biasa disingkat dengan POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling).

Ramayulis menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an seperti firman Allah SWT: QS. As-Sajdah:5
ãÎn/y‰ãƒ tøBF{$# šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# ’n<Î) ÇÚö‘F{$# ¢OèO ßlã÷ètƒ Ïmø‹s9Î) ’Îû 5Qöqtƒ tb%x. ÿ¼çnâ‘#y‰ø)ÏB y#ø9r& 7puZy™ $£JÏiB tbr‘‰ãès? ÇÎÈ  
Artinya:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”
            Dalam ayat diatas diketahui baha Allah SWT, merupakan pengatur alam. Akan tetapi, sebagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT, mengatur alam raya ini.
Manajemen juga dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan memanfaatkan orang lain (geeting thing done through the effort of other people). Dari pengertian tersebut, tersirat adanya lima unsur manajemen, yaitu:
1.      Pimpinan
2.      Orang-orang (pelaksana) yang dipimpin
3.      Tujuan yang akan dicapai
4.      Kerjasama dalam mencapai tujuan tersebut
5.      Sarana atau peralatan manajemen (tools of management) yang terdiri dari enam macam (dikenal dengan 6 M), yaitu:
a.       Man (manusia/orang)
b.      Money (Uang)
c.       Materials (Bahan-bahan)
d.      Machine (Mesin)
e.       Method (Metode)
f.       Market (Pasar)
Manajemen umumnya diartikan sebagai proses perencanaan, mengorganisasi, pengarahan, dan pengawasan. Usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaaan sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Inti dari manajemen adalah pengaturan.[2]
Manajemen juga mengkaji efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kinerja organisasi dengan mempertimbangkan tujuanorganisasi, kegiatan yang logis, jumlah sumber daya manusia atau staf yang memadai, disiplin kerja, upah yang proporsional, bonus yang prestatif, standar pekerjaan yang sistematis, pertanggungjawaban yang objektif, penerapan balas jasa atau insentif yang memotivasional, dan pengembangan perusahaan yang terukur.
B.     Pengertian Pendidikan
Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.[3]
Dari pengertian diatas, pendidikan mencakup tiga aspek. Pertama, usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Perndidikan harus disiapkan dengan matangmulai dari mutu guru, kelas, media, metode, evaluasi, hingga prasarana pendukung keberhasilan pendidikan. Persiapan yang matang ini akan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan di semua level.
Pendidikan yang tidak direncanakan dengan baik akan memengaruhi mutu proses pembelajaran yang berujung pada tidak tercapainya tujuan pendidikan. Selain kelemahan dalam perencanaan, pendidikan kita juga lemah dalam pelaksanaan. Apa yang sudah direncanakan dengan baik sering dilanggar, dan tidak ada sanksi terhadap pelanggaran tersebut.
Meski demikian, pendidikan tidak hanya ada di sekolah, pesantren, dan kampus, tetapi juga terjadi di rumah. Meski tidak tertulis, karakter orangtua di rumah akan membentuk karakter anak-anak. Bayangkan, sejak bangun tidur, berangkat ke sekolah, pulang sekolah, dan menjelang tidur, anak-anak berinteraksi dengan orang tua.
Di rumah, orangtua berperan dalam pembentukan karakter, aspek penting yang mungkin gagal dikembangkan di sekolah. Karena itu, keberadaan orantua – minimal ibu – di rumah sangat penting. Orangtua seperti apa? Orangtua yang paham bagaimana mendidik anak melalui ucapan dan tindakan. Tidak perlu sekolah tinggi, asal mau belajar dan menggunakan nurani, setiap orangtua bisa menjadi orangtua baik. Di rumah, anak-anak belajar kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, kemandirian, dan tanggungjawab.
Kedua, potensi siswa berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan pendidikan melahirkan manusia yang pintar, terampil, dan sholeh, manusia yang imtaq dan iptek, manusia yang terampil dan baik terhadap sesame dan Tuhan. Pendidikan harus menyentuh aspek afektif, kognitif, dan psikomotor siswa.
Sejarah manusia dan bangsa membuktikan bahwa pendidikan harus mengutamakan pembentukan spiritualitas dan emosional siswa dibanding intelektualitas siswa. Menjadi manusia utuh dan sempurna tidak bisa bermodal kecakapan intelektual, tetapi memerlukan kecakapan spiritual dan emosional.
Peperangan, kudeta, kemiskinan, kelaparan, korupsi, prostitusi, perjudian, kolusi, dan nepotisme, merupakan masalah krusial dunia yang dihadapi oleh generasi sebelum dan abad ke-21 saat ini. Masalah mucul, sebabnya ialah langsung maupun tidak langsung, lemahnya kecakapan spiritual dan emosional pemimpin dan manusia abad ini. Nafsu kekuasaan dan uang menguasai para pemimpin.
Namun tidak sedikit juga manusia yang memiliki kecakapan spiritual dan emosional di dunia ini. Manusia yang hidupnya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menolong sesama. [4]
Ketiga, ilmu yang bermanfaat bagi individu, masyarakat, dan bangsa. Tujuan akhir dari sekolah dan kuliah yaitu agar manusia bisa hidup bahagia dan membahagiakan orang lain. Banyak faktor orang menjadi bahagia: materi, jabatan, dan keluarga. Pendidikan harus melahirkan manusia yang hidup untuk kepentingan orang banyak, masyarakat, dan bangsa.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan akhlak, keterampilan, dan pengetahuan anak dan pemuda di sekolah atau di rumah, agar hidup mereka bahagia dan bermanfaat bagi masyarakat.



[1] Prof.Dr.H.Boedi Abdullah, M.Ag, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia) hal.1
[2] Jejen Musfah, Manajemen Pendidikan Teori, Kebijakan, dan Praktik, (Jakarta: Prenada Media, 2015) hal.2.
[3] Ibid, hlm.9
[4] Ibid, hal.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar